TERASKITA.WEB.ID – BUKITTINGGI, KOMPAS.com – Nilai tukar rupiah melemah 2,91 persen terhadap dollar AS sepanjang tahun 2025 dan sempat menyebtuh level tertinggi Rp 16.891 per dollar AS pada 8 April. Namun fluktuasi rupiah dinilai lebih stabil di tengah aliran modal asing keluar (outflow) dari pasar keuangan Indonesia akibat ketidakpastian global. Ekonom Bahana TCW Investment Management Emil Muhamad mengatakan, stabilitas rupiah saat ini jauh lebih kuat dibanding beberapa tahun lalu.
Ketahanan rupiah saat ini merupakan hasil transformasi ekonomi yang terus berjalan, termasuk melalui peningkatan investasi langsung (foreign direct investment/FDI), penguatan ekspor, dan hilirisasi industri. “Memang asing bisa keluar, tapi apa yang terjadi selama beberapa minggu ini? Rupiah kita masih stabil. Ini artinya kita sudah siap menghadapi itu.
Jadi kita tidak selalu panik ketika asing keluar. Kita kembali ke tatanan dunia baru, FDI (foreign direct investment) versus portfolio flow,” ujarnya saat pelatihan wartawan di Bukittinggi, dikutip Minggu (26/10/2025).
Menurutnya, keluarnya investor asing dari pasar keuangan RI bukan disebabkan oleh menurunnya kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia. Melainkan karena tingkat imbal hasil (yield) obligasi domestik yang relatif rendah dibanding negara lain, seperti India. Adapun yield obligasi tenor 10 tahun Indonesia saat ini sekitar 5,9 persen sedangkan India mencapai 6,5 persen.
Kondisi ini membuat sebagian investor global lebih tertarik menempatkan dananya di India yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Namun, Emil menegaskan, keluarnya investor asing kali ini tidak menimbulkan gejolak yang signifikan pada nilai tukar rupiah seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau suku bunga terlalu rendah, biasanya asing akan outflow. Dari situ, apakah ada dampak negatif lanjutan? Per hari ini, dampak negatifnya berhenti di asing outflow. That’s it,” tegasnya.
Dia melanjutkan, selama ini pergerakan rupiah kerap sensitif terhadap arus masuk dan keluar dana asing di pasar keuangan, tapi kini dampaknya semakin kecil karena struktur ekonomi Indonesia semakin kokoh berkat hilirisasi.
“Problem kita selama ini adalah kalau asing tiba-tiba risk-off terhadap emerging market, rupiah bisa langsung melompat. Itu seberapa fragile kita dulu versus sekarang. Kenapa? Ini dampak hilirisasi,” ungkapnya. “Ada yang bilang hilirisasi itu tidak inklusif, masyarakat lokal tidak diberdayakan, dan sebagainya.
One of the main objectives dari hilirisasi adalah membuat rupiah kita lebih kuat terhadap fluktuasi capital flow. Agar ketika hari ini bond kita mengalami outflow, rupiah kita tidak terguncang karena kita masih punya cadangan devisa yang tebal,” sambungnya.(Red)








